TAHARAH
Salah satu diantara keistimewaan islam yang menonjol adalah
perhatiannya terhadap kesucian dan kebersihan baik jasmani maupun rohani.
Kebersihan dan kesucian jasmani berkaitan dengan perihal yang bersifat fisik
lahiriah, seperti badan, pakaian, tempat dan alat-alat yang digunakan untuk
makanan dan minuman dari kotoran dan najis. Sedangkan kebersihan dan kesucian
rohani berarti terbebas dari hadats sebagai syarat untuk melaksanakan ibadah.
Dalam Al Qur’an maupun Hadits banyak ditemukan petunjuk-petunjuk
maupun perintah-perintah agar umat islam senantiasa bersih dan suci.
Sebaliknya, islam juga banyak memberikan penjelasan tentang akibat manusia yang
tidak menjaga kebersihannya.
A. PENGERTIAN TAHARAH
Menurut bahasa, kata taharah berarti bersih
atau suci, sedangkan menurut istilah suatu cara atau perbuatan yang dilakukan
seseorang dengan tujuan membersihkan diri, pakaian atau tempat dari dari hadats
atau najis. Hadas berhubungan dengan badan, sedangkan najis berhubungan dengan
badan, pakaian, dan tempat. Hadas bersifat immateri, tidak dapat dibuktikan
wujud, bau dan rasa, sedangkan najis bersifat materi, yakni dapat dibuktikan
wujud, bau, atau mungkin rasa.
ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
.
Artinya :
….Sesungguhnya, Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang
yang mensucikan diri. (Q.S. Al Baqarah 2:222)
B. MACAM-MACAM ALAT
BERSUCI
Alat atau benda yang dapat digunakan untuk
bersuci menurut Islam ada dua macam, yaitu benda padat dan benda cair.
1. Benda Padat
Benda padat yang dimaksud adalah batu, kertas, daun dan kayu. Semua
benda tersebut dalam keadaan bersih dan tidak terpakai.
2. Benda Cair
Benda cair yang boleh digunakan untuk bersuci adalah air. Ada dua
jenis air yaitu air yang dapat digunakan untuk bersuci mutlak[1],
dan air yang tidak dapat digunakan untuk bersuci.
C. TATA CARA BERSUCI
Bersuci dari najis dan hadats adalah termasuk
amalan penting dalam hukum Islam, diantaranya untuk melaksanakan ibadah sholat,
sebagai syarat sahnya adalah suci dari hadas dan najis baik badan, pakaian
serta tempatnya. Tata cara bersuci dari hadats dan najis adalah sebagai berikut
:
1. Bersuci dari Najis
a. Bersuci menggunakan
benda padat atau debu
Cara ini dilakukan dengan menggosokan debu atau
benda padat tersebut pada bagian badan yang akan dibersihkan secara
perlahan-lahan dan dilakukan berkali-kali sampai diyakini kotoran atau najisnya
hilang. Menurut etika Islam tangan yang digunakan untuk menggosok adalah tangan
kiri sedangkan tangan kanan digunakan untuk mengambil benda atau alat
bersucinya. Benda yang lazim digunakan untuk istinjak adalah batu sedangkan
penggunaannya disunnahkan sebanyak tiga kali (tiga gosokan) hal tersebut
dimaksudkan agar badan benar-benar bersih dari sisa-sisa kotoran. Hal tersebut
didasarkan pada sebuah hadis berikut:
عن سلمان قال :
نهانا رسـولالله صلى الله عليه وسلم : ان نستنجي باقل من ثلاثة احجار )رواه مسلم :
385(
Artinya :
Dari Salman Berkata “ Rasulullah saw. Telah bersabda kami istinjak
dengan batu kurang dari tiga buah.” (HR. Muslim : 385)
b. Bersuci menggunakan
benda cair / Air
Benda cair yang boleh digunakan untuk bersuci
adalah air. Air yang boleh digunakan untuk bersuci, ada pula yang tidak boleh
atau tidak sah untuk bersuci. Bersuci menggunakan air dapat dilakukan dengan
cara sebagai beriku :
1. Apabila najis tersebut bersifat
immaterial atau berwujud maka harus dibersihkan dulu kemudian baru menyiramnya
dengan air sebanyak tiga kali atau lebih sekiranya kita yakin najis tersebut
sudah hilang.
2. Apabila najis tersebut tidak bersifat
immaterial maka untuk mensucikannya cukup dengan membasuh air sebanyak tiga
kali atau lebih sekiranya najis tersebut hilang.
Berikut ini penjelasan mengenai air yang boleh
digunakan untuk bersuci dan air yang tidak boleh atau tidak sah digunakan untuk
bersuci.
1. Air yang suci dan
mensucikan, artinya air yang
halal diminum dan sah digunakan untuk bersuci, seperti air hujan, air sumur,
air laut, air salju, air embun, dan air sungai selama semuanya itu belum
barubah warna, bau dan rasa.
2. Air suci tapi tidak
mensucikan, artinya air yang
halal di konsumsi tapi tidak sah untuk bersuci, misalnya : air kelapa, air teh,
air kopi, dan air yang dikeluarkan dari pepohonan.
3. Air mutanajis (air
yang terkena najis). Air ini
tidak halal dikonsumsi dan tidak sah untuk bersuci. Misalnya:
a. Air yang sudah berubah warna, bau, dan
rasanya karena terkena najis.
b. Air yang belum berubah warna, bau, dan
rasanya walaupun terkena najis, tetapi dalam jumlah sedikit (kurang dari dua
kulah).
4. Air yang makruh
dipakai bersuci, seperti
air yang terjemur atau terkena panas matahari dalam bejana, selain bejana emas
dari perak.
5. Air mustakmal, adalah air yang telah digunakan untuk
bersuci dan jumlahnya kurang dari dua kulah walaupun tidak berubah warnanya.
Air ini tidak boleh digunakan untuk bersuci karena dikhawatirkan telah terkena
kotoran atau najis sehingga dapat mengganggu kesehatan.
2. Bersuci dari Hadats
Hadas ialah perkara yang menyebabkan seseorang
wajib berwudu atau mandi janabah jika hendak melaksanakan shalat. Orang yang
berhadas dikatakan tidak suci (walaupun bersih). Mengenai hadats, fukaha
membaginya menjadi dua macam, yaitu hadas kecil dan hadas besar.
a. Hadas kecil ialah hadats yang dapat
disucikan dengan cara wudu dan tayamum. Adapun yang termasuk hadas kecil ialah
mengeluarkan air seni (kencing), air besar (berak), hilang akal karena gila,
tidur dengan tidak duduk, dan menyentuh kemaluannya sendiri dengan telapak
tangan namun sebagian ulama menyatakan tidak batal.
b. Hadats besar ialah hadas yang dapat
disucikan dengan mandi. Apabila yang bersangkutan berhalangan untuk mandi
karena sakit atau sebab yang lain, mandi dapat diganti dengan tayamum.
Sebab-sebah yang mewajibkn mandi adalah sebagai berikut :
o
Melakukan hubungan suami istri (bersetubuh),
baik mengeluarkan mani atau tidak.
o
Keluar mani baik sengaja atau tidak disengaja.
o
Selesai menjalani masa haid.
o
Setelah menjalani masa nifas.
D. KOTORAN DAN NAJIS
Kotoran dan najis adalah sesuatu yang
menghalangi sahnya ibadah (shalat). Kata kotor adalah sebutan bagi benda atau
barang yang tidak sedap d pandang mata karena terkena atau tercampuri benda
lain.
Najis ialah sesuatu yang kotor menurut
agama. Manusia tidak boleh membuat aturan sendiri untuk menentukan apakah suatu
benda itu najis ataukah tidak melainkan Agama telah menentukan jenis-jenis
barang atau benda yang tergolong najis.
Berikut ini adalah macam-macam najis dan
cara mensucikannya;
1. Najis Mughaladah (Najis
Berat)
Yaitu najis yang di sebabkan dari liur
anjing atau babi yang mengenai suatu anggota badan atau suatu benda. Cara
menyuci kan najis ini adalah lebih dahulu mengilangkan wujud benda najis itu,
kemudian di cuci air bersih sebanyak 7 kali dan salah satunya dengan tanah.
2. Najis Mutawasithah (Najis
Sedang)
Najis mutawasithah ada 2 macam yaitu:
a. Najis Mutawasithah hukmiyah adalah najis
yang d yakini adanya, namun tidak ada bau, rasa, ataupun wujudnya. Seperti air
kencing yang sudah kering. Cara menyucikannya cukup menyiram air di atasnya.
b. Mutawasithah ‘ainiyah adalah najis yang
masih ada wujud, bau ataupun rasa. Cara menyucikannya ialah di basuh ampai
hilang wujud, bau, ataupun rasa (kecuali jika wujud itu susah di hilangkannya).
3. Najis Mukhaffafah (Najis
Ringan)
Seperti najis anak laki-laki yang belum
makan apa-apa, kecuali ASI dan umurnya kurang dari 2 tahun. Cara menyucikan
najis ini cukup memercikan air pada benda yang terkena najis.
Air kencing anak perempuan yang sama
umurnya dengan anak laki-laki dan belum makan apa-apa selain ASI, cara
menyucikannya harus di bersihkan dengan air yang mengalir pada benda yang
terkena najis sehingga hialng rasa,
warna, dan baunya.
Dari segi hukumnya, najis dibagi menjadi dua bagian yaitu;
1. Najis ‘Ainiyah
Najis ‘ainiyah adalah benda najis yang
masih ada materinya, seperti zat, rasa dan bau Secara hukum ia najis tapi
materi najisnya sudah hilang, cara mensucikan benda yang terkena najis
‘ainiyah, dicuci sehingga hilang materi najis itu, rasa, warna dan baunya. Kecuali warna
atau bau yang sangat sulit dihilangkan maka dimaafkan.
2. Najis Hukmiyah
Najis hukmiyah adalah najis yang
materinya sudah hilang, seperti air kencing yang sudah kering. Benda yang kena
najis hukmiyah, cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air pada benda
tersebut. (Sulaiman Rasyid : 1994, H 36)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar