A.
PENGERTIAN RIBA
• Menurut Etimologi,
Riba berarti الزيادة ( tambahan ),
• Menurut Terminologi
Riba berarti pertambahan sesuatu yang di khususkan atau tambahan pada harta pengganti dalam pertukaran harta dengan harta.
Riba di haramkan berdasarkan Al-Qur’an, sunah dan ijma’
• Menurut Etimologi,
Riba berarti الزيادة ( tambahan ),
• Menurut Terminologi
Riba berarti pertambahan sesuatu yang di khususkan atau tambahan pada harta pengganti dalam pertukaran harta dengan harta.
Riba di haramkan berdasarkan Al-Qur’an, sunah dan ijma’
A. Al-Quran
Allah swt
berfirman;
لَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ
الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا
إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا
فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ
إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang
yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya
jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari
Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang
telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)
kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah
penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [QS Al Baqarah (2): 275].
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ
مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا
بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ
أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba
(yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak
mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan
rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka
bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.
[QS Al
Baqarah (2): 279].
B. Al-Hadits
Nabiyullah
Mohammad saw
دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ
سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ زِنْيَةً
“Satu dirham
riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka
itu lebih berat daripada enam puluh kali zina”. (HR Ahmad dari Abdullah bin
Hanzhalah).
الرِبَا ثَلاثَةٌَ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ
يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ, وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عَرْضُ الرَّجُلِ
الْمُسْلِمَ
“Riba itu
mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang
menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang
muslim”. (HR Ibn Majah).
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ
الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ, وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ
“Rasulullah
saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua
orang saksinya. Belia bersabda; Mereka semua sama”. (HR Muslim)
روي عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : لعن رسول الله ص.م. اكل الربى وموكله وساهده وكاتبه (روه ابو داود وغيره
“Di riwayatkan oleh Ibnu Mas’ud R.A. Bahwa Rosulullah SAW telah melaknat pemakan riba, yang mewakilinya, saksinya dan penulisnya. “
(H.R. Abu Daud dll)
C. Ijma’
Seluruh Ulama’ sepakat bahwa riba di haramkan dalam Islam.
B. MACAM-MACAM RIBA
(1) Riba
nasiiah (riba jahiliyyah);
Riba
Nasii`ah adalah tambahan yang diambil karena penundaan pembayaran utang untuk
dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah tambahan itu merupakan sanksi
atas keterlambatan pembayaran hutang, atau sebagai tambahan hutang baru.
Adapun
dalil pelarangannya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim
الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ
”Riba
itu dalam nasi’ah”.[HR Muslim dari Ibnu Abbas]
آلاَ إِنَّمَا الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ
“Ingatlah,
sesungguhnya riba itu dalam nasi’ah”. (HR Muslim).
Riba
ini ada dua bentuk:
a.
Penambahan harta sebagai denda dari
penambahan tempo (bayar hutangnya atau tambah nominalnya dengan mundurnya
tempo).
Misal:
Si
A hutang Rp 1 juta kepada si B dengan tempo 1 bulan. Saat jatuh tempo si B
berkata: “Bayar hutangmu.” Si A menjawab: “Aku tidak punya uang. Beri saya
tempo 1 bulan lagi dan hutang saya menjadi Rp 1.100.000.” Demikian seterusnya.
Sistem
ini disebut dengan riba mudha’afah (melipatgandakan uang).
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ
تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda.”
(Ali ‘Imran: 130)
b.
Pinjaman dengan bunga yang
dipersyaratkan di awal akad
Misalnya:
Si
A hendak berhutang kepada si B. Maka si B berkata di awal akad: “Saya hutangi
kamu Rp 1 juta dengan tempo satu bulan, dengan pembayaran Rp 1.100.000.”
Riba
jahiliyah jenis ini adalah riba yang paling besar dosanya dan sangat tampak
kerusakannya. Riba jenis ini yang sering terjadi pada bank-bank dengan sistem
konvensional yang terkenal di kalangan masyarakat dengan istilah “menganakkan
uang.” Wallahul musta’an.
(2) Riba
Fadlal;
Riba
fadlal adalah riba yang diambil dari kelebihan pertukaran barang yang sejenis.
Dalil
pelarangannya adalah hadits yang dituturkan oleh Imam Muslim.
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ
بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ
بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا
بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَت هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا
كَانَ يَدًا بِيَدٍ
Emas dengan emas, perak dengan perak,
gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan
garam, semisal, setara, dan kontan. Apabila jenisnya berbeda, juallah sesuka
hatimu jika dilakukan dengan kontan”.(HR Muslim dari Ubadah bin Shamit ra).
الذَّهَبُ
بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا
بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ فَمَنْ زَادَ أَوْ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا
“Emas dengan emas, setimbang dan
semisal; perak dengan perak, setimbang dan semisal; barang siapa yang menambah
atau meminta tambahan, maka (tambahannya) itu adalah riba”. (HR Muslim dari Abu
Hurairah).
عن فضالة
قال: اشتريت يوم خيبر قلادة باثني عشر دينارًا فيها ذهب وخرز، ففصّلتها فوجدت فيها
أكثر من اثني عشر ديناراً، فذكرت ذلك للنبي صلّى الله عليه وسلّم فقال: ”لا تباع
حتى تفصل“
“Dari Fudhalah berkata: Saya membeli
kalung pada perang Khaibar seharga dua belas dinar. Di dalamnya ada emas dan
merjan. Setelah aku pisahkan (antara emas dan merjan), aku mendapatinya lebih
dari dua belas dinar. Hal itu saya sampaikan kepada Nabi saw. Beliau pun
bersabda, “Jangan dijual hingga dipisahkan (antara emas dengan lainnya)”. (HR
Muslim dari Fudhalah)
Dari Said bin Musayyab bahwa Abu
Hurairah dan Abu Said:
أن رسول
الله صلّى الله عليه وسلّم بعث أخا بني عدي الأنصاري فاستعمله على خيبر، فقدم بتمر
جنيب [نوع من التمر من أعلاه وأجوده] فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: ”أكلّ
تمر خيبر هكذا“؟ قال: لا والله يا رسول الله، إنا لنشتري الصاع بالصاعين من الجمع
[نوع من التمر الرديء وقد فسر بأنه الخليط من التمر]، فقال رسول الله صلّى الله
عليه وسلّم: ”لا تفعلوا ولكن مثلاً بمثل أو بيعوا هذا واشتروا بثمنه من هذا، وكذلك
الميزان“
“Sesungguhnya Rasulullah saw mengutus
saudara Bani Adi al-Anshari untuk dipekerjakan di Khaibar. Kamudia dia datang
dengan membawa kurma Janib (salah satu jenis kurma yang berkualitas tinggi dan bagus).
Rasulullah saw bersabda, “Apakah semua kurma Khaibar seperti itu?” Dia
menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah . Sesunguhnya kami membeli satu sha’ dengan
dua sha’ dari al-jam’ (salah satu jenis kurma yang jelek, ditafsirkan juga
campuran kurma). Rasulullah saw bersabda, “Jangan kamu lakukan itu, tapi
(tukarlah) yang setara atau juallah kurma (yang jelek itu) dan belilah (kurma
yang bagus) dengan uang hasil penjualan itu. Demikianlah timbangan itu”. (HR
Muslim).
(3) Riba
Qaradl;
Riba Qardl. Riba qaradl adalah
meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan yang
harus diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman. Riba semacam ini
dilarang di dalam Islam berdasarkan hadits-hadits berikut ini;
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits
dari Abu Burdah bin Musa; ia berkata, ““Suatu ketika, aku mengunjungi Madinah.
Lalu aku berjumpa dengan Abdullah bin Salam. Lantas orang ini berkata kepadaku:
‘Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang di sana praktek riba telah
merajalela. Apabila engkau memberikan pinjaman kepada seseorang lalu ia
memberikan hadiah kepadamu berupa rumput kering, gandum atau makanan ternak,
maka janganlah diterima. Sebab, pemberian tersebut adalah riba”. [HR. Imam
Bukhari]
(4) Riba
Yadd.
Riba al-Yadd. Riba yang disebabkan
karena penundaan pembayaran dalam pertukaran barang-barang. Dengan kata lain,
kedua belah pihak yang melakukan pertukaran uang atau barang telah berpisah
dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima.
Larangan riba yadd ditetapkan
berdasarkan hadits-hadits berikut ini;
الذَّهَبُ
بِالذَّهَبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ
وَهَاءَ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيرُ
بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ
“Emas dengan emas riba kecuali dengan dibayarkan
kontan, gandum dengan gandum riba kecuali dengan dibayarkan kontan; kurma
dengan kurma riba kecuali dengan dibayarkan kontan; kismis dengan kismis riba,
kecuali dengan dibayarkan kontan (HR al-Bukhari dari Umar Bin Al-Khathtab)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar